« TUTUP
KANJENG TUNDJUNG
Warisan budaya berupa literasi kearifan merupakan sumber acuan untuk berpikir, berasa dan bertindak. Literasi kearifan yang tersimpan dalam khasanah pustaka, idiom, ajaran, dari para leluhur serasa sebuah fatwa dari para pujangga. Literasi kearifan itu menembus batas zaman dan penting untuk diaktualisasikan.
Selengkapnya »
 
facebook twitter instagram whatsapp linkedin youtube

KATEGORI

ARTIKEL TERBARU

FATWA PUJANGGA

Literasi Kearifan Budaya Bangsa
 

Membatik Untuk Negeri

Terbit 13 Juli 2020 pada kategori Kearifan dengan label , .

Pada hari ini (Rabu,2/10) genap sepuluh tahun kita memperingati Hari Batik Nasional. Sejak ditetapkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009, batik diakui sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-Bendawi. Jadi, yang diakui oleh dunia adalah sifat tak bendanya yaitu simbol dan filosofi yang ada di balik setiap goresan corak dan motifnya.

Tema peringatan Hari Batik Nasional tahun 2019 adalah “Membatik untuk Negeri”, yang saya rasa tepat saat di negeri kita saat ini perlu simbol-simbol persatuan. Misalnya, motif batik Cual Bangka yang mengenal motif itik sebagai simbol persatuan dan kesatuan. Filosofi motif itik pada batik Cual Bangka melambangkan sifat itik yang tidak pernah bertarung merebutkan makanan walaupun dalam satu kerumunan. Itik juga menunjukkan keselarasan dalam kelompok sebagaimana binatang itu berbaris rapi dan solid ketika dihela oleh gembalanya menuju ke sawah untuk mencari makan.

Tidak banyak yang memahami simbol-simbol yang tersimpan dibalik setiap motif batik yang bertebaran di negeri ini. Jika Anda melakukan perjalanan dari Banten di barat Pulau Jawa sampai Banyuwangi di timur Jawa pasti menjumpai kebhinekaan motif batik yang sarat simbol dan filosofi.

Ambil saja salah satu motif batik Banten yang dinamai motif Panembahan yang diambil dari nama gelar Sultan Hasanudin didalam menata ketatanegaraan menuju kejayaan Kasultanan Banten. Ada pula batik Banten motif Langenmaita yang merupakan simbolisasi tempat berlabuhnya kebahagiaan didalam mengarungi samudera cinta.

Di Kota Purwakarta sejak tahun 2009 telah diciptakan batik khas setempat yang motifnya dinamakan Kahuripan yang mengandung filosofi Iman, Islam dan Ikhsan.  Di Kota Sukabumi kita kenal batik motif Leuit, menggambarkan kearifan lokal warga Kasepuhan Sinaresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi, yang dikenal dengan Jawara khas tanah Pasundan. Leuit sendiri berarti lumbung padi tempat menyimpan cadangan padi ketika panen tiba.

Kalau berkunjung ke Kota Subang, Jawa Barat, ada batik khas Subang yang dinamai motif Ganasan dengan gambaran buah nanas sebagai buah yang dikalim sebagai buah khas Subang. Ketika kita menyinggung Tasikmalaya juga ada batik motif yang dikenal luas oleh masyarakat setempat maupun masyarakat luar. Di Tasikmalaya motif batiknya hampir sama dengan sebagian besar motif batik di Jawa Barat yang disebut Batik Priangan.

Kota Tasikmalaya yang lebih dikenal sebagai Kota Batik di Jawa Barat selatan mempunyai motif-motif  yang sarat dengan simbol alam dengan spirit menjaga kelestarian sebagaimana nama motif Sawoan, Awi Ngarambat dan Merak Ngibing. Tidak ubahnya di kota sebelahnya yaitu Kota Garut yang batiknya dibranding dengan nama batik Garutan dengan motif-motif yang kaya simbol. Seperti motif Bulu Hayam, Lereng Kangkung, Cupat Mangu yang melambangkan eksotisnya lingkungan setempat.

Tidak ayal lagi Kota Cirebon pun juga punya motif yang dinamakan Mega Mendung yang berbentuk gumpalan-gumpalan awan putih yang mengumpul. Motif ini dibuat oleh Pangeran Cakrabuwana, yaitu salah satu cucu dari Sunan Gunung Jati. Motif Mega Mendung juga bermakna dunia atas yang melambangkan kebebasan.

Ketika kita memasuki wilayah Tegal tidak hanya mengenal Warteg tetapi juga motif Batik Tegalan yang dinamai Gribikan, Sawatan, Cempaka Putih dan Cempaka Mulia. Misalnya, motif Sawatan dikenal oleh masyarakat Tegal etimologinya dari kata shalawatan karena dahulu ketika orang membatik motif Sawatan ini dengan mengumandangkan shalawat kepada Nabi.Begitu kita memasuki Kota Pekalongan, kita akan mengenal banyak motif batik khas Pekalongan seperti motif Jlamprang yang merupakan suatu motif dengan memiliki dua aksentuasi geometris. Filosofi motif Jlamprang menerangkan tentang kebudayaan umat Islam yang tetap melindungi silaturahmi dan hidup rukun. Ada pula motif Liong yang mengandung simbol akulturasi karena motif ini dibuat atas andil warga Tionghoa dengan tema berupa makhluk khayalan seperti naga.

Ketika kita berada di Kota Solo,  pasti akan menemukan gudangnya simbol-simbol keluhuran yang berada di balik nama-nama motif kain batiknya. Coba saja apa itu motif Sidoluhur,  Parang Barong, Parangkusumo, Sidomukti, Truntum yang masih melekat di tengah-tengah ragam busana orang Jawa di Kota Solo baik untuk upacara pernikahan maupun untuk upacara lainnya.

Ada etika yang harus dipahami saat apa kita memakai motif yang penuh simbolis itu. Ketika seseorang mempunyai hajad pernikahan pasti yang digunakan adalah motif Truntum yang merupakan simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum).

Etika dan estetika

Berbicara motif batik di negeri ini sama saja dengan berbicara soal kebhinekaan suku bangsa. Ternyata ketika kita belajar tentang simbol dan filosofi ayng dikandung dalam setiap motif batik di setiap daerah mengandung etika dan estetika. Belum pernah ada motif batik yang melambangkan perilaku kekerasan. Semua motif melambangkan harmoni alam dunia yang syarat dengan misi edukasi kepada generasi yang mewarisi.

Sampai di ujung timur Pula Jawa pun (Banyuwangi) tidak ditemui motif batik yang melambangkan simbol disharmoni. Artinya, sesuai dengan warisan tak benda yang diakui dunia tentang batik memang sarat dengan filosofi dari masyarakat yang berbudaya. Dapat diintrepetasikan bahwa pencipta setiap motif batik dahulunya punya misi pesan moral bagi generasi pewarisnya.

Begitu pun di luar Jawa, juga punya banyak varian dan variasi motif kain batik khas daerah yang sarat akan etika dan estetika. Misalnya, di Banjar Kalimatan Selatan ada motif Sasirangan. Di Tanah Minang kita jumpai nama motif unik yang disebut batik Tanah Like dengan aneka motif seperti Pucuk Rebung, Daun Pakis dan Rangkiang.

Begitu seterusnya, di daerah Nusantara ini dapat dikatakan etika dan estetika harmoni yang disimpan di balik motif kain batik begitu memukau dunia. Disamping menggambarkan khebinekaan juga menggambarkan penghubung waktu masa lalu dan masa depan. Kain batik yang berkembang dari sejarah kebudayaan masa lalu terus tidak terputus sampai masa kini dan masa depan.

Tinggal bagaimana generasi saat ini mewarisi etika dan estetika batik itu bagi pendidikan kharakter bangsa. Karena, generasi milenial harus punya metode sendiri didalam membangun kebanggaan melalui pengetahuan sejarah batik melalui teknologi informasi yang sudah massif saat ini. Idealnya, generasi milenial lebih kaya pengetahuannya tentang kain batik sebagai warisan tak benda yang diakui dunia.

Oleh karena itu tema “Membatik untuk Negeri” sebagai tema peringatan Hari Batik Nasional tahun 2019 ini harus dijadikan semangat meradikalisasi pengetahuan batik bagi generasi yang mewarisi budaya dunai tak benda saat ini. Selamat Hari Batik 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA